Sabtu, 24 Desember 2011

Dengarkan Ibu

Diposting oleh miss_eka di 12/24/2011 08:41:00 PM

            Keluarga merupakan harta yang tak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini. Ialah harta paling berharga yang pernah kita miliki. Di luar sana banyak orang-orang yang kurang beruntung, di mana mereka tak memiliki keluarga yang utuh bahkan ada pula yang tak mengetahui keberadaan keluarga mereka. Oleh karena itu saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas nikmat keluarga yang diberikan kepada saya, karena meski tak sehebat orang-orang, namun saya memiliki keluarga yang cukup utuh dan harmonis.

            Saya adalah sulung dari tiga bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Jarak usia kamipun sangat berdekatan, sehingga membuat kami tumbuh bersama-sama dan selalu kompak. Kami sudah dibiasakan untuk bersama dalam hal apapun. Mulai dari bermain, berangkat sekolah hingga pulang sekolah pun harus bersama-sama.
           
            Satu kejadian yang tak akan pernah saya lupa yaitu ketika saya duduk di kelas 5 SD. Waktu itu saya
diajak oleh Intan teman saya untuk bermain ke rumahnya sepulang sekolah. Sebelumnya Intan sudah beberapa kali mengajak saya ke rumahnya, maklum saja dia merasa kesepian karena ia merupakan anak tunggal. Jadi ia selalu mengajak teman-temannya untuk menemaninya di rumah. Namun saya tak pernah mendapat ijin dari ibu, karena rumahnya itu harus menyeberang jalan raya. Ibu sangat khawatir, karena banyak kendaraan, namun entah mengapa hari itu saya sangat ingin bermain ke rumah Intan. Kebetulan waktu itu kami dipulangkan lebih awal. Dalam pikiran saya, saya bisa bermain beberapa jam dan pulang ke rumah pada saat jam pulang sekolah seperti biasanya. Saya berpikir harus mengajak kedua adik saya, karena jika mereka pulang lebih dulu pasti ibu saya akan mengetahui kalau saya singgah di rumah Intan. Akhirnya kami bertiga pun pergi ke rumah Intan. Intan dengan senang hati, apalagi jam segitu orang tuanya tidak berada di rumah.

            Kami sampai di rumah Intan dengan selamat. Sebenarnya perasaan cemas menyelimuti hati saya. Kalau sampai ketahuan ibu pastilah saya akan dimarahi. Namun saya tidak ingin merusak suasana waktu itu. karena jarang-jarang saya bisa bermain di rumah teman sepulang sekolah. Entah mengapa jika kita singgah bermain sepulang sekolah ada perasaan yang beda denga ketika kita senagaja datang bermain.
            Ketika sedang asyik bermain. tiba-tiba telepon rumah Intan berdering. Permainan kamipun terhenti sejenak. Intan lalu mengangkat teleponnya. dan yang membuat saya kaget, ternyata itu telepon untuk saya. Dengan perasaan dag dig dug saya meraih gagang telepon itu. Saya pun mulai berbicara di telepon tersebut. Dengan nada khawatir bercampur marah saya mendengar dengan jelas suara ibu yang menyuruh saya untuk segera pulang. Akhirnya dengan wajah tegang saya dan adik-adik segera berpamit untuk pulang. Sebenarnya jarak rumah saya dan Intan tidak begitu jauh. hanya saja kami harus melintasi jalan raya, dan itu penyebab utama mengapa ibu selalu melarang saya bermain ke rumah Intan.
            Baru beberapa meter dari rumah Intan, saya sudah melihat sosok ibu yang ternyata datang menjemput kami. Rupanya ibu benar-benar tidak tenang memikirkan kami bertiga yang harus menyeberang jalan raya. Ekspresi ibu waktu itu sungguh marah. Saya pun tidak berani menatap wajahnya.
            Sudah saya duga ibu akan marah. Dalam perjalanan menuju rumah nyaris tak berhenti ibu mengomel. Rasanya saya ingin bersembunyi, ingin berlindung pada seseorang. Saat seperti itu saya biasanya berlindung pada ayah, karena jika ibu sedang marah, biasanya ayah yang akan membela, begitupun sebaliknya jika ayah marah ibu yang akan membela. Namun, jam segitu ayah pasti tak ada di rumah, karena jam pulang kantor ayah adalah sore hari. Waah...kaki pun sangat berat melangkah, rasanya saya lebih baik berjalan tiada henti daripada harus sampai di rumah. karena jika sudah sampai, saya pasti akan merasakan cubitan ibu!

            Namun ada hal lucu dalam perjalanan itu. Ibu yang sedang mengomel, tiba-tiba terhenti. antara percaya dan tidak saya seperti melihat gulungan uang di jalan tersebut. Setelah saya amati ternyata benar, itu adalah gulungan uang. Uang itu berjumlah tujuh ribu rupiah. Jumlah yang cukup banyak waktu itu. Sejenak saya merasa lega karena amarah ibu sedikit teralihkan. Kesempatan itupun memang saya jadikan momen untuk meredam amarah ibu. ibu pun langsung mengatakan untuk menyimpannya di kotak amal masjid, karena menurut ibu jika kita menggabungkan uang yang kita dapat secara tidak sengaja, maka uang kita bisa ikut menghilang. Padahal saya tahu itu hanya sebuah mitos. Namun, karena cuaca cukup panas, saya meminta pada ibu untuk membelikan separuh uang tersebut untuk membeli es. Akhirnya ibu pun menyetujui dan menyuruh saya segera pulang jika sudah menyimpan sisa uang tersebut di kotak amal masjid.

            Dalam hati saya masih ragu, kira-kira amarah ibu sudah reda ataukah masih akan berlanjut. Sesampai di rumah saya cukup lega karena melihat ada motor ayah. Terkadang ayah memang pulang untuk makan siang. Dalam hati saya bertambah girang, karena jika ibu marah berarti ada ayah yang akan membela saya. Saya sengaja masuk lewat pintu samping. Dengan sedikit mengendap-endap saya memasuki rumah. Namun, baru sampai di ruang tengah saya sudah dipanggil ibu. Yah, kena deh. Di situlah saya di marahi. Berbagai omelan dan uneg-uneg yang ibu pendam sedari tadi diluapkan. Rupanya ayah pun pulang bukan untuk makan siang, namun karena memang ditelepon ibu, karena ibu sangat bingung hendak kemana lagi mencari kami bertiga. Rupanya ibu mengetahu bahwa kami dipulangkan lebih awal, karena melihat teman kami yang melintas di depan rumah. Bisa dibayangkan bagaimana kecemasan ibu. Lalu ibu pun menghubungi ayah karena pikirannya sudah tidak tenang. Akhirnya ayah lah yang berinisiatif menghubungi teman-teman kami.
            "sudah berapa kali ibu bilang, jangan suka singgah-singgah kalau pulang sekolah. pulang sekolah ya langsung di rumah. apalagi singgah di rumah Intan. itu bahaya kalau anak-anak menyeberang. banyak kendaraan eka! apalagi kamu ajak dengan adik-adik, bikin ibu khawatir. bagaimana kalau kalian diculik? ibu khawatir eka. Ibu tidak tenang di rumah ini!"
Ibu mengomel sejadinya. kala itu, itulah amarah ibu yang paling besar.
            Saat itu ayah pun tidak membela saya, karena ayahpun sebenarnya marah karena tindakan saya kali itu sangat keterlaluan. Namun ayah terlihat menahan amarah, saya tahu ayah sangat ingin membela, namun ia juga seakan ingin memberi saya peringatan. Beberapa saat kemudian ayahlah yang meredakan amarah ibu dan menyuruh kami berganti pakaian dan makan siang.

            Sejak saat itu, saya tidak berani lagi singgah ke rumah teman. Kecuali saya minta ijin terlebih dahulu, itupun hanya boleh jika ada tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama. Memang sebaiknya kita harus selalu menuruti perkataan orang tua karena semua yang mereka lakukan demi kebaikan kita.

0 komentar:

Tayangan halaman minggu lalu

Pengunjung Eka ^_^

 

Mind of eka Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea