Sabtu, 24 Desember 2011

SMS Untuk Hamid

Diposting oleh miss_eka di 12/24/2011 08:56:00 PM


            Langit masih membiru ketika pagi menyapa kampus bumi tri dharma Unhalu. Kampus yang belakangan rajin tampil di TV ini terlihat masih lengang ketika jarum jam menunjuk di 06.00 wita. Nampak beberapa pria berbadan tegap berlari-lari ringan sekedar mengundang keringat membasahi tubuh mereka. Nampak pula perempuan paruh baya yang tengah menata ulang halaman kampus agar terlihat rapi dan bersih.

            Pagi itu Hamid telah rapi. Tubuh cungkringnya telah dibalut kemeja licin dan celana kain yang telah kinclong tekena mulusnya pipi setrika. Hamid mahasiswa baru yang tengah mencari jati diri untuk siap menancapkan kukunya di blantika pendidikan Unhalu. Ia memang bertekad menjadi mahasiswa luar biasa yang kelak menjadi kebanggaan semua orang.
            “Hamid, mau kemana ko…pagi-pagi sudah rapi pet.”
            “Hamid mau menimba ilmu yang insya Allah mengantar Hamid pada kesuksesan ya Akhi.”
            “Heh, gayamu situ. Paling juga jam segini belum ada yang muncul. Telat-telat saja bodo.”
            Teguran dari kawannya memang sedikit menciutkan langkahnya. Namun, ia kembali pada tujuannya semula. Pagi itu akan ada rapat kepengurusan dalam salah satu lembaga dakwah yang ada di kampusnya. Sebagai pengurus baru, semangat Hamid masih membara. Ibarat permainan, semangat Hamid kini berada di
level puncak. Pokoknya ia akan mengemban amanah yang dipegangya dengan sebaik mungkin. Jadwal rapat 06.30, namun ia sengaja datang sebelum waktu karena tidak ingin telat mengikuti agenda hari itu.

            Hamid memantapkan langkahnya. Senyumnya terus mengembang seiring derap langkah dari kost-kostan menuju kampus. Dalam benaknya, ia akan mengikuti satu moment yang keren, ia akan mendapat banyak pengalaman, dan pastinya berbobot. Lima belas menit kemudian ia telah melewati pepohonan, rumput, bebatuan, gedung demi gedung, dan telah menyusuri panjangnya aspal dari tempat kost hingga di sebuah ruangan yang masih hening.
            Seketika ia agak terkejut. Senyum yang tadi mengembang manis semanis kembang gula, tiba-tiba berkurang sedikit-sedikit. Ia langsung teringat pada perkataan teman-teman di kostnya tadi.
            “Apa betul yang mereka bilang?”
            Ah…Hamid berusaha menepis semua anggapan itu. Baginya mahasiswa yang tergabung di lembaga ini teramat sempurna. Mereka orang-orang intelek, punya segudang prestasi, punya segudang pengalaman di berbagai lembaga besar lain, dan akupun ingin seperti mereka. Yah, mungkin ini lecutan awal bagiku sebagai anggota baru yang akan mulai belajar. Lagipula jam masih menunjuk pada 06.23, masih tersisa tujuh menit pikirnya.

            Hamid pun menunggu. Sendirian ia menatap cerahnya pagi. Kabut-kabut mulai menipis, awan-awan masih berarak malas semalas teman-teman di kostnya tadi.
            “Hahaha”, seketika Hamid tertawa. Mau jadi apa mereka. Bangun pagi saja malas, gumamnya dalam hati. Tanpa sadar ia mulai berbangga diri, entah hal apa yang tiba-tiba membuatnya sombong. Entah karena tergabung di wadah orang-orang intelek atau apa. Tapi tawanya seketika terhenti. Ia mulai gelisah. Was-was juga hatinya menunggu teman-teman yang sudah mengadakan janji untuk rapat. Ia mulai bosan, dongkol juga ia menunggu seorang diri dengan suasana yang masih hening. Ia mulai berpikir aneh-aneh. Batinnya mulai mengumpat, mulai berbisik-bisik kasar. Ia gelisah, ia mulai marah, epidermis di keningnya mulai mengkerut. Bibir yang semula mengembang dihiasi senyum seketika datar.

            “Huft”, Hamid mendesah. Namun ia tetap berbesar hati. Ya, mungkin mereka telat sedikit. Ya, telat lima sampai sepuluh menit tak apalah, mereka kan orang-orang sibuk. Hamid pun berbesar hati. Ia melanjutkan tatapan kosong ke arah langit. Baginya hanya mentari yang bisa berbalas senyum dengannya kini. Benar-benar tak ada orang di sini. Padahal ia sudah membayangkan suasana rapat penuh aroma intelek yang segar di pagi hari. Namun, menit demi menit telah ia lewati. Belum ada derap langkah yang terdengar mendekatinya.

            Seketika ia kesal, amarah membumbung sampai ubun-ubunnya. Kekesalan yang begitu kuat membuncah di dadanya.
            “Apa-apaan ini!”
            Ia pun mengomel sedemikian rupa. Seakan mengeluarkan semburan air dari pipa hati yang sedari tadi ia tahan-tahan.
            “Dasar! Katanya mau rapat jam setengah tujuh. Tapi mana? Mana? sudah hampir jam tujuh belum ada satupun yang muncul!”

            Hamid terus mengoceh seorang diri. Entah ia mengomel kepada siapa. Mentari yang menjadi teman tersenyunya sedari tadi terus menatapnya masih dengan senyum bahkan kini semakin cerah menghangatkan dunia. Ia kesal, seharusnya kini ia tengah tersenyum bak mentari itu. Menyaksikan orang-orang hebat itu beradu argumen dalam sebuah rapat yang sudah mereka sepakati. Sebagai maba yang baru menapaki dunia kampus, ia sesungguhnya tengah mencari jati diri. Ia ingin menjadi yang terbaik diantara yang baik. Karena lembaga ini dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa berprestasi baik akademik maupun non akademik. Namun kini ia mulai kesal dengan semuanya. Kebanggaan yang memenuhi otaknya ia hapus sedikit-sedikit. Baginya mereka sama saja dengan mahasiswa lain yang suka ngaret.

            “Kenapa sih mereka tidak bisa menghargai waktu? Apa karena waktu tidak berwujud? Apa karena waktu tidak bisa marah-marah? Apa karena waktu tidak bisa menegur mereka? Oke baiklah saya yang akan melakukan semua itu atas nama sang waktu!”

            Hamid mulai mengoceh, dalam otaknya ia mulai merasakan panas yang menjalar sampai ke ubun-ubunnya. Berbagai kritikan plus sindiran tajam sudah berwara-wiri dibenaknya. Tanpa sadar ia mulai angkuh. Hamid muda merasa perlu menunjukkan bahwa ialah yang patut dicontoh orang-orang itu. Orang-orang yang menurut Hamid bagai kedondong. Diluar baik, mulus, penuh prestasi. Tapi di dalam keseharian tak sebaik di luar. Mereka ngaret! Tidak disiplin dan tidak konsisten. Ia pun bangkit dari tempatnya menunggu. Sebelum melangkah ia tak lupa mengirim SMS ke beberapa teman rapatnya hari itu.

            Saya kecewa pada kalian. Jadwal rapat kita itu 06.30. tapi lht skg sdh hmpir jm 07.00 klyn blm ad yg mncul. Sdh kering sy mnunggu dsini! Klu bgtu smpaikan maaf sy pd ketua. Bilang sm dia jgn hrap bs maju kLu pd waktu sj anda tak bs menghargainya!

            Berbagai pikiran aneh pun kembali hinggap hingga ia pun sampai pada mimpi menjadi ketua lembaga tersebut. Hihii.. Hamid cekikikan geli. Ia sampai berpikir sampai sejauh itu. Bla..bla..bla.. semua kekesalannya terganti dengan khayalan tingkat tinggi. Tetapi tiba-tiba khayalannya buyar karena deringan SMS di HP-nya. Langkah yang sedari tadi mulai ringan menjadi begitu berat. Senyum Hamid yang lebar menjadi mengkeriput. Mata berbinarnya pun berubah menjadi melotot tajam. Hati yang berbunga-bunga menjadi remuk. Entah apa yang akan ia lakukan.

            Dilihatnya ke langit, mentari terbahak menertawainya. Disekelilingnya bunga-bunga, rumput, dan pepohonan cekikikan menertawainya pelan dan sembunyi-sembunyi. Ia pun berlari sekencang-kencangnya. Hamid malu, ia menutup wajahnya tak mau terlihat dunia.
            “aaaaarrrghhhhhhh..!” hamid berteriak tapi bukan karena kesal lagi melainkan karena malu. Ia malu setelah membaca SMS yang berisi:

Afwan akhi rapat kita bukan hari ini, tapi besok. Jadi wajar gak ad yg nongol hr ini hehhe.

0 komentar:

Tayangan halaman minggu lalu

Pengunjung Eka ^_^

 

Mind of eka Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea