Rabu, 05 September 2012

Coklat Ini Untukmu, Kak !

Diposting oleh miss_eka di 9/05/2012 02:52:00 PM

            Aku mengenalnya sejak beberapa bulan yang lalu. Tepat di depan bangunan itu. Bangunan yang nampak megah dengan kubah yang setia memayunginya. Di masjid itu pula, ia selalu menyerahkan jiwanya pada sang pemberi kehidupan. Ia selalu nampak khusyuk dengan lantunan kalimat suci yang nampak begitu lancar, deras mengalir dari bibirnya. Sementara aku, dari tempat yang berbeda, turut mengaminkan doanya. Sebab aku tahu, ia menyelip doa untukku. Pasti!
            Sejak hari itu, hari dimana aku mengenalnya, aku kerap memanggilnya kakak. Padahal kami seumuran. Entah mengapa, aku senang bersahabat dengannya. Setiap sabtu sore ia selalu berada di masjid itu. Dengan sabar ia menanti siapa saja yang hendak mampir di lapak buku sederhananya. Entah membeli atau hanya sekadar membaca-baca saja.
            “Kak, ada buku baru ga ?”
            “Banyak…silahkan dilihat-lihat dulu.”
            Disela aku melihat buku itulah, aku mendapat sentilan kecil yang membuat aku gelisah memikirkan semua ini.
            “Dek, sepertinya kamu cocok juga ya kalo pake kerudung.”

  Ah, kak Rahmat. apakah ia sengaja menyinggungku? atau aku yang terlalu serius menanggapi kalimat yang ia sendiri refleks mengucapkannya. Ya, selama ini hubungan kami selalu harmonis dan hangat. Tapi, untuk kali ini aku benar-benar bingung. Apa maksudnya ia menyuruhku berkerudung? Padahal ia jelas-jelas tahu kalau aku adalah gadis berkalung salib.


            Besok adalah 14 Februari. Dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Hari untuk mengenang kematian seorang pendeta yang rela mengorbankan jiwanya demi kebahagiaan umat. Masih seperti tahun-tahun kemarin, aku turut merayakan euforia valentine. Lengkap dengan nuansa pink dan manisnya coklat yang kami bagikan kepada orang-orang terkasih. Menurutku tidak ada salahnya memperingati hari ini, meski semakin hari kontroversi Valentine semakin ramai diperbincangkan. Ya, bagiku…Valentine bukan tentang agama siapa, melainkan bagaimana mengasihi sesama dengan cara kita masing-masing dengan segenap hati.


            Aku sudah menyiapkan semuanya. yang aku tahu, ini hari kasih sayang. Mereka selalu bilang, kasih sayang tak perlu dirayakan. Setiap hari kita wajib berkasih sayang, tapi anehnya selalu saja ada air mata yang tumpah setiap harinya.
            Aku mulai membagikan coklat-coklat buatanku pada teman-teman. Ekspresi mereka bermacam-macam. Ada yang ikhlas menerima, namun ada juga yang terlihat ragu menerimanya. Seperti Kak Rahmat…..
            “Ini coklat valentine?”
            “Kalau ia, lantas kenapa?”
            “Maaf, bukannya aku menolak. Tapi kau tau kan, kalo aku gak merayakan valentine?”
            “Apakah semua kebaikan yang aku lakukan harus dianggap sebagai kado valentine?          Kalau begitu aku tidak boleh melakukan kebaikan untukmu.. Dan akhirnya hari ini terlewati tanpa melakukan satu kebaikan pada orang yang aku sayangi?”
            “Maria…jangan mulai lagi perdebatan itu!”
            “Baik kak, aku stop. Kalau begitu anggap aku tidak pernah merayakan hari ini, dan terimalah coklat ini. Coklat ini untukmu, Kak!”
            Bahkan di hari ini saja, aku benar-benar tak bisa membagi kasih sayang untuk Kak Rahmat. Hanya karena aku termasuk orang-orang yang merayakan hari kasih sayang. Tuhan, mengapa harus Kak Rahmat. Tak bisakah perasaan ini kuberi pada orang yang menerima aku apa adanya? Tanpa memandang agama yang aku anut?
            Aku melihat butiran kaca di matanya. Ah, Kak Rahmat, apa kau menangis. Apa yang kau tangisi? Tentang coklat ini? Atau tentang aku yang tak kunjung kau lihat berkerudung seperti pintamu?
            “Kak, Maria mohon, terima coklat ini. Maria ikhlas, Kak!”
            “Ah..Maria. Kau jangan merengek. Tenanglah, aku akan menerima coklatmu. Kau benar, ini hanya sekadar coklat. Lagipula aku juga penasaran, bagaimana coklat buatan tanganmu itu.”
            “Iya kak silahkan dicoba. Siapa tahu besok Kak Rahmat mau lagi, besok harganya Lima ribu rupiah ya Kak!”
            Kami tergelak. Aku merasa lega. Setidaknya ia bisa merasakan coklat yang aku buat dengan sejuta kasih sayang itu. Ya, akhirnya Kak Rahmat menerima coklat ini, meski dengan alasan yang cukup menggelitik untuk kupahami.
            Ia mulai membuka bungkusan coklat bergambar hati itu. Sret..sreet.. Suara kertas pembungkus nampak jelas sekali di pendengaranku. Namun, belum sempat Kak Rahmat mencoba coklat itu tiba-tiba……
            “Rahmat, kamu bisa adzan ga?”
            “Iya, bisa. Memangnya kenapa Pak?”
            “Tolong kamu gantikan bapak sebentar ya. Suara bapak sedang ga bagus. Sakit tenggorokan. Tolong ya nak Rahmat!”
            “Oh ia, tentu saja Pak.”
            “Maria…sebentar ya. Aku adzan dulu.”
            Segera ia berlari menuju bangunan itu. Meninggalkan aku di pelatarannya yang malam itu terasa sepi. Beberapa saat kemudian terdengar suara Kak Rahmat membahana dengan sangat indah. Suaranya bulat, lantang, memecah kesunyian yang sedari tadi mendominasi malam.
            Aku begitu haru, suara Kak Rahmat memang merdu saat melafadzkan seruan kepada sesamanya untuk segera menunaikan kewajiban mereka.
            Aku benar-benar tak dapat memahami perasaanku saat ini. Aku belum bergeming dari pelataran bangunan itu. Aku tergugu, diam masih di pelatarannya. Masih menikmati lantunan adzan nan indah sembari menatap coklat yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
            Aku tak tahu bagaimana perasaan Kak Rahmat menerima coklat pemberianku. Yang pasti aku ikhlas memberikan kepadanya, hasil jerih payahku, ungkapan sayang dariku. Ya, apapun tanggapanmu……coklat ini untukmu, Kak Rahmat.
Kendari, 14 Februari 2012…Miss Eka :)

0 komentar:

Tayangan halaman minggu lalu

Pengunjung Eka ^_^

 

Mind of eka Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea